10
Oct
09

kerajinan tangan khas banten

BATIK BANTEN

Banten punya batik?. Mungkin begitu yang terlintas di benak banyak orang ketika mendengar tentang batik banten. Memang kerajinan ini belum banyak terdengar dan terlihat penggunaannya di keseharian kita. Tapi ternyata, pada saat mengunjungi pusat kerajinan batik banten, kita disuguhi pemandangan ratusan kain aneka warna dengan motif motif geometris yang sangat menarik.
showroom-batik.jpg

Sungguh kebetulan, pada saat berkunjung kesana ,saya berkesempatan untuk bertemu langsung dengan pemilik pusat kerajinan batik banten, Bapak Uke Kurniawan, SE, seorang mantan pejabat Dinas Pekerjaan Umum yang sekarang memfokuskan diri pada pengembangan batik dan ragam hias tradisional banten.

Beliau bercerita mengenai asal muasal dari batik banten. Dimulai di tahun 2002, ketika beliau dan salah seorang arkeolog yang banyak sekali meneliti dan menulis tentang banten, Bpk (alm) Hasan M. Ambary mencoba untuk memperkenalkan ragam hias yang di dapat selama penelitian arkeologi di situs banten lama. Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan lebih kurang 75 ragam hias. Untuk lebih memperkenalkan ragam hias tersebut, dipilihlah media batik sebagai sarana yang paling mudah untuk memasyarakat. Sampai sekarang ini, sudah lebih dari 50 ragam hias yang dituangkan dalam bentuk kain batik, bahkan 12 diantaranya telah dipatenkan di tahun 2003.
sebelum-diwarna.jpg
Yang sangat menarik, batik banten memiliki tampilan warna yang sangat meriah, gabungan dari warna warna pastel yang berkesan ceria namun juga lembut. Yang menurut Pak Ambhary (Alm), sangat cocok dalam menggambarkan karakter orang banten yang memiliki semangat tinggi, cita-cita tinggi, karakter yang ekspresif namun tetap rendah hati. Dan berdasarkan penjelasan lebih lanjut dari Pak Uke, paduan warna tersebut ternyata sangat dipengaruhi oleh air tanah, yang dalam proses pencelupan, mereduksi warna warna terang menjadi warna pastel karena kandungan yang ada di dalamnya.
nama-dan-motif.jpg
Masing masing motif batik tersebut juga diberikan nama nama khusus yang diambil dari nama tempat, bangunan, maupun ruang dari situs Banten Lama dan juga dari nama gelar di masa Kesultanan Banten. Motif yang mengambil nama tempat diantaranya adalah : Pamaranggen (tempat tinggal pembuat keris), Pancaniti (Bangsal tempat Raja menyaksikan prajurit berlatih), Pasepen (Tempat Raja bermeditasi), Pajantren (Tempat tinggal para penenun), Pasulaman (Tempat tinggal pengrajin sulaman), Datulaya (tempat tinggal pangeran), Srimanganti (tempat raja bertatap muka dengan rakyat), Surosowan (Ibukota Kesultanan Banten). Motif yang mengambil nama gelar diantaranya : Sabakingking (gelar dari Sultan Maulana Hasanudin), Kawangsan (berhubungan dengan Pangeran Wangsa), Kapurban (berhubungan dengan gelar Pangeran Purba), Mandalikan (berhubungan dengan Pangeran Mandalika).

Penggunaan batik banten sekarang ini sudah mulai memasyarakat, terutama penggunaan di kota Serang. Beberapa sekolah sekarang ini sudah menggunakan batik banten untuk seragam sekolah, dan bahkan dalam menyambut pelaksanaan MTQ Nasional tanggal 17-24 Juni nanti sedang disiapkan batik banten untuk digunakan seluruh delegasi pada saat hajatan nasional tersebut berlangsung. Selain itu, ragam hias bangunan artifak banten lama yang dijadikan motif batik tersebut kini juga kembali digunakan dalam ragam hias panggung MTQ dan bangunan Masjid Agung di Kawasan Pusat Pemerintahan Propinsi Banten.

Dengan mulai digunakannya batik Banten dalam acara berskala nasional, semoga dapat menjadikan kekayaan ragam hias khas Banten tersebut lebih memasyarakat lagi. Bahkan, bukan tidak mungkin untuk ragam hias tersebut menjadi ciri khas dari Banten yang tidak hanya digunakan pada media kain namun juga pada media lainnya.
pada-kolom.jpg

03
Oct
09

BAHASA BANTEN

Bahasa Banten adalah salah satu dialek dari Bahasa Sunda. Sesuai dengan sejarah kebudayaannya, bahasa Sunda dituturkan di provinsi Banten khususnya di kawasan selatan provinsi tersebut (kecuali kawasan pantura yang merupakan daerah tujuan urbanisasi dimana penutur bahasa ini semakin berkurang prosentasenya). Basa Sunda Dialek Banten ini dipertuturkan di daerah Banten selatan. Daerah Ujung Kulon di sebelah selatan Banten, semenjak meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883, tidak dihuni lagi dan sekarang menjadi taman nasional.

Selain bahasa Banten, di provinsi Banten digunakan juga bahasa Banyumasan dan bahasa Jawa yang digunakan di daerah pesisir utara Banten.

03
Oct
09

Lagu ‘Kebangsaan’ Banten Tempo Doeloe


Beberapa hari yang lalu saya mendapat kiriman email dari Ibnu, yang menginformasikan tentang adanya sebuah lagu ‘kebangsaan’ Banten. Kabarnya, teks lagu itu pernah dimuat di surat kabar Soerasowan yang terbit di Batavia, edisi 4 bulan Oktober 1929. Naskah ini ditemukan diperoleh dari perpustakaan Leiden Belanda dalam bentuk microfilm.

Selain teks, naskah ini juga dilengkapi oleh notasinya. Namun saya belum bisa menampilkan notasi dari lagu ini. (kapan2 aja ya!!!)

Banten, Negeri Leluhurku
Compositie: RSP Winangoen

Wahai negri Banten jang koe tjinta
Tanah aer tempat toempah darah kita,
Poetramoe jang sesenang denga sederita,
Semaoe sekata dan setjita-tjita

Refrein:
Wahai Banten, djantung ati,
Dengan moe koe berdiri,
Mari kita semoea
Kerjdja oentoek madjunja

Wahai Banten moestika jang gilang goemilang,
Kita soempah setia tidak kepalang,
Membela hoermatmoe terang dengan benderang,
Padamoe siap seoentoeng dan semalang
Banten moeda, ingetlah akan kwadjibanmoe,
Wadjib bersatoe antara soedaramoe,
Sama-sama mengoendjoeken sikap jang temtoe,
Berdiri berbaris tegak ladjoe madjoe

Refrein:
Peotra Banten, sesamakoe,
Mari kita semoea
Djoenjoeng tinggi namanja,

Banten moeda, poetra-poetri jang setiawan
Bersatoelah bernaoeng bawah seroean
Berseroelah jang keras oentoek persatoean
Persatoean memberi kemoeljaan.

03
Oct
09

CINDRAMATA BANTEN


Category: Other
PERGURUAN SILAT KARANG TUNGGAL KENALKAN ALIRAN SILAT BANDRONG

Memperingati Hari Ulang Tahun Forum Pencinta dan Pelestarian Silat Tradisional Indonesia (FP2STI) yang ke-2, Perguruan Silat Karang Tunggal dari Kampung Karang Dalam Bojonegara, Banten mendapat kehormatan untuk mengisi kegiatan diskusi di padepokan silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada hari Sabtu, 21 Juni 2008.

Hadir pada kegiatan tersebut Edi M. Nalapraya selaku Presiden Pesilat, H. Ace sebagai sesepuh Cimande, sesepuh Beksi, sesepuh Cikalong, sesepuh guru silat tradisional dan para praktisi ilmu beladiri dari berbagai macam bidang.

Sebelumnya sesepuh Tim silat Bandrong ini disambut oleh Alda Amtha, Rosid, Iwan dan pengurus FP2STI lainnya. Diwakili ust. Jemari, tim Bandrong mendapat kehormatan untuk memimpin do’a.

Para peserta dengan antusias mengikuti acara diskusi silat bandrong sampai jam empat sore, Nasrudin mengenalkan aliran silat Bandrong dengan memaparkan sejarahnya, bagaimana kaidah dan falsafah Silat Bandrong juga dipaparkan oleh Satibi yang kemudian diperagakan aplikasi Jurus Kembang Kalangan masing-masing oleh Astare dari Sesepuh Karang Tunggal, Hamri, Madina, Rohim, dan Ali Mahmud.

Diakhir acara, dilakukan sesi diskusi yang dipandu oleh Satibi. Sebagai penutup, Alda Amtha sebagai Ketua FP2STI, memberikan cindramata kepada sesepuh Bandrong. *** (Nasrudin).

03
Oct
09

video

03
Oct
09

Alat tradisional banten (kujang)

Deskripsi

Dalam Wacana dan Khasanah Kebudayaan Nusantara, Kujang diakui sebagai senjata tradisional masyarakat Masyarakat Jawa Barat (Sunda) dan Kujang dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah Kujang berasal dari kata Kudihyang dengan akar kata Kudi dan Hyang.

Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406)foto kujang180px-Golok

Sedangkan Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.

Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.

Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.

Bagian-bagian Kujang

Karakteristik sebuah kujang memiliki sisi tajaman dan nama bagian, antara lain : papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak). Selain bentuk karakteristik bahan kujang sangat unik cenderung tipis, bahannya bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam.

Dalam Pantun Bogor sebagaimana dituturkan oleh Anis Djatisunda (996-2000), kujang memiliki beragam fungsi dan bentuk. Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat antara lain : Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara) dan Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang). Sedangkan berdasarkan bentuk bilah ada yang disebut Kujang Jago (menyerupai bentuk ayam jantan), Kujang Ciung (menyerupai burung ciung), Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango), Kujang Badak (menyerupai badak), Kujang Naga (menyerupai binatang mitologi naga) dan Kujang Bangkong (menyerupai katak). Disamping itu terdapat pula tipologi bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan.

Nambihan Saur Sepuh…

Menurut orang tua ada yang memberikan falsafah yang sangat luhur terhadap Kujang sebagai; “Ku-Jang-ji rek neruskeun padamelan sepuh karuhun urang” Janji untuk meneruskan perjuangan sepuh karuhun urang/ nenek moyang yaitu menegakan cara-ciri manusa dan cara ciri bangsa. Apa itu? Cara-ciri Manusia ada 5: Welas Asih (Cinta Kasih), Tatakrama (Etika Berprilaku), Undak Usuk (Etika Berbahasa), Budi Daya Budi Basa, Wiwaha Yuda Na Raga (“Ngaji Badan”. Cara-ciri Bangsa ada 5: Rupa, Basa, Adat, Aksara, Kebudayaan

Sebetulnya masih banyak falsafah yang tersirat dari Kujang yang bukan sekedar senjata untuk menaklukan musuh pada saat perang ataupun hanya sekedar digunakan sebagai alat bantu lainnya. Kujang bisa juga dijadikan sebagai senjata dalam setiap pribadi manusia untuk memerangi prilaku-prilaku diluar “rel” kemanusaiaan. Memang sungguh “gaib sakti” (falsafah) Kujang. Kenapa setiap kujang mempunyai jumlah bolong/ mata yang berbeda-beda??? Umumnya ada yang 3, 5 (kombinasi 2 dn 3), 9. Itu pun mengandung nilai falsafah yang sangat tinggi dengan istilah “Madep/Ngiblat ka Ratu Raja 3-2-4-5-Lilima-6″. Itu semua kaya akan makna yang dapat membuka mata kita tentang siapa aku? dari mana asalnya aku? untuk apa aku hidup? dan menuju kemana aku?

terima kasih atas kesempatan ini, semoga bermanfaat.

Lebakeun Gunung Tangkuban Parahu,

03
Oct
09

Pakaian KHAS BANTEN Pencak Silat

Kamis, 9 Juli 2009 | 16:52 WIB

Beberapa petugas di Tempat Pemungutan Suara 20 Kampung Seni dan Wisata Manglayang sibuk membolak-balik lembar-lembar formulir pemilu presiden. Raut wajah mereka tampak serius saat menjumlahkan suara.

Tidak ada yang berbeda dengan suasana di TPS lain kecuali mereka mengenakan pakaian tradisional berwarna hitam. Leher para petugas TPS itu dikalungi lembaran kain batik. Kepala menggunakan kain ikat tradisional. Mereka mengenakan busana tradisional yang disebut baju pangsi dan celana komprang, pakaian khas Jawa Barat.

Menurut Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) 20, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Ayub Erwansyah, baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat.

Baju itu dipakai karena TPS itu terletak di Kampung Seni dan Wisata Manglayang. “Karena itu, kami ingin menerapkan kehidupan tradisional sambil melaksanakan tugas sebagai anggota KPPS,” kata Ayub.

Di Kampung Seni dan Wisata Manglayang memang dilakukan latihan pencak silat secara rutin. Namun, para anggota KPPS itutak ada yang menguasai pencak silat. “Kami hanya dipinjamkan pakaian. Kalau pelatihnya, ada orang lain. Semua panitia KPPS 20 berprofesi sebagai pegawai swasta, ha-ha-ha…,” ujar Ayub.

Para petugas KPPS itu tampak memakai baju dobel, di luar pangsi dan bagian dalam umumnya batik. Kondisi TPS 20 tampak sederhana dengan bangunan terbuka berukuran sekitar 25 meter persegi dan sisi yang ditutupi spanduk bekas. Sekat-sekat dibuat dengan tali rafia dan palang bambu.

baju silat

Para petugas bekerja dengan meja dan kursi sekolah. Lantainya terdiri dari bata yang disemen. Beberapa angklung yang bergantung pada bagian atap menambah suasana tradisional di kampung yang sejuk itu. Meski demikian, para petugas KPPS 20 tetap bekerja dengan semangat.

Pakaian rakyat Kampung Seni dan Wisata Manglayang berjarak 13 kilometer dari pusat Kota Bandung. Tempat itu dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit dengan kendaraan pribadi.

Anggota KPPS 20, Nandang S, mengatakan, jumlah anggota KPPS setempat sebanyak tujuh orang dan datang sejak pukul 07.00. Sekitar pukul 13.00 TPS ditutup, lalu panitia mulai melakukan penghitungan suara.

Pupuhu Kampung Seni dan Wisata Manglayang, Kawi, mengatakan, para anggota KPPS 20 memakai baju pangsi dan celana komprang secara spontan. “Saya juga kaget waktu disampaikan rencana menggunakan pakaian tradisional. Ada semacam kesadaran yang muncul begitu saja,” ujarnya.

Tidak ada rencana untuk mengenakan pakaian yang berbeda jauh hari sebelumnya. Semalam sebelum pemungutan suara, para anggota KPPS sepakat untuk menggunakan baju pangsi. Pada saat pemilihan legislatif, April lalu, mereka pun hanya mengenakan baju formal.

silat

Pada zaman dulu, komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap hari. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jabar, tetapi dipakai di seluruh provinsi itu, termasuk Banten ketika belum terpisah.

Baju tradisional Sunda sebenarnya beragam. Namun, baju pangsi dan celana komprang dipilih anggota KPPS di Kampung Seni dan Wisata Manglayang karena merupakan pakaian rakyat.

Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. Sebagian penggembala kerbau, misalnya, mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. Masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggang. (DWI BAYU RADIUS)




ARCHIVES

Blog Stats

  • 22,040 hits

CALENDER

November 2014
M T W T F S S
« Oct    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

PAGES


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.